Senin, 15 Juni 2015
Kamis, 11 Juni 2015
Apa arti dari aza wa jalla?
Pertanyaan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa arti dari aza wa jalla?
Jawaban
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, "Dianjurkan bagi penulis hadits apabila melalui penyebutan (nama) Allah `azza wa jalla agar menuliskan kata-kata `azza wa jalla (yang maha perkasa lagi mulia) atau ta'ala (yang maha tinggi), atau subhanahu wa ta'ala (yang maha suci lagi tinggi), atau tabaraka wa ta'ala (penuh berkah dan maha tinggi), atau jalla dzikruhu (yang mulia sebutannya), atau tabarakasmuhu (pemilik nama yang penuh berkah), atau jallat `azhamatuhu (maha mulia kebesarannya), atau yang serupa dengannya. Begitu pula hendaknya menuliskan kata-kata shallallahu `alaihi wa sallam secara sempurna ketika menyebutkan nama Nabi (Muhammad), tidak dengan menyingkatnya, dan tidak pula mencukupkan diri pada salah satunya (salam atau shalawat saja)."
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa arti dari aza wa jalla?
Jawaban
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, "Dianjurkan bagi penulis hadits apabila melalui penyebutan (nama) Allah `azza wa jalla agar menuliskan kata-kata `azza wa jalla (yang maha perkasa lagi mulia) atau ta'ala (yang maha tinggi), atau subhanahu wa ta'ala (yang maha suci lagi tinggi), atau tabaraka wa ta'ala (penuh berkah dan maha tinggi), atau jalla dzikruhu (yang mulia sebutannya), atau tabarakasmuhu (pemilik nama yang penuh berkah), atau jallat `azhamatuhu (maha mulia kebesarannya), atau yang serupa dengannya. Begitu pula hendaknya menuliskan kata-kata shallallahu `alaihi wa sallam secara sempurna ketika menyebutkan nama Nabi (Muhammad), tidak dengan menyingkatnya, dan tidak pula mencukupkan diri pada salah satunya (salam atau shalawat saja)."
“Demikian
pula dikatakan radhiyallahu’anhu ketika menyebut nama Sahabat. Apabila
Sahabat itu anak dari Sahabat yang lain, maka dikatakan
radhiyallahu’anhuma. Hendaknya juga mendoakan keridhaan dan rahmat bagi
segenap ulama dan orang-orang baik/salih. Hendaknya semua ucapan
tersebut ditulis, meskipun dalam naskah aslinya tidak tertulis, karena
hal ini bukan termasuk periwayatan, namun sekedar doa. Orang yang
membaca (hadits) juga hendaknya membaca setiap ucapan yang telah kami
sebutkan tadi, meskipun di dalam teks yang dibacanya doa-doa tersebut
tidak disebutkan. Janganlah dia merasa bosan mengulang-ulanginya.
Barangsiapa yang lalai melakukannya niscaya akan terhalang meraih
kebaikan yang amat besar dan kehilangan keutamaan yang sangat agung.” (Muqadimah Syarh Muslim, 1/204).
Oleh
sebab itu perbuatan sebagian orang menyingkat shalawat dan salam
menjadi shad atau shad-lam-’ain-mim adalah sunnah sayyi’ah (kebiasaan
yang buruk). Begitu pula tulisan saw yang sering kita baca di buku-buku
terjemahan atau asli bahasa Indonesia. Dikisahkan oleh As-Suyuthi
rahimahullah di dalam Tadribu Ar-Rawi bahwa orang yang pertama kali
menuliskan shad-lam-’ain-mim dihukum dengan dipotong tangannya [!!] (Dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 249)
Semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)








